Home > Uncategorized > Perjalanan Rangga Umara Menaikkan Martabat Lele

Perjalanan Rangga Umara Menaikkan Martabat Lele

Apa dan Siapa Sosok Rangga Umara?

Setiap orang Sukses, pasti memiliki Cerita yang amat menarik untuk dibaca. Begitu juga dengan Sosok Rangga Umara. Rangga lahir dari pasangan Deddy Hasanudin, Seorang ustaz dan ibunya, Tintin Martini, pegawai negeri. Cerita Sukses pengusaha muda yang ini sangatlah luar biasa, jatuh bangun dalam meniti karir di bisnis kuliner membuatnya semakin handal disetiap tantangan dan Cobaan. Akan banyak sekali yang kita petikdari cerita perjalanan pengusaha muda Satu ini.

Satu yang pasti: semangat wirausaha tertanam di jiwa dan raga Rangga Umara untuk selalu konsisten dijalur entrepreneur, Menghadapi semua masalah walaupun sulit akhirnya membuahkan hasil yang manis. Cerita Sukses Pengusaha muda Rangga Umara tentu bisa menginspirasi para pengusaha pemula untuk tetap maju dan berjuang dijalur wirausaha yang lebih mandiri.

Menjadi Korban PHK

Setiap orang Sukses, pasti punya pengalaman yang menarik untuk disimak. Ada pahit manis kehidupan yang menyertai kariernya. Begitu juga dengan Rangga. Sebelum di PHK dari jabatan manajer di sebuah perusahaan, Rangga Umara memilih jualan pecel lele di pinggir jalan. Modal yang minimalis bahkan pernah membuat ia terjerat hutang renternir, Bagaimana jatuh bangun Rangga membangun usaha bisnis RM Pecel Lele Lela?

Selamat Pagi” Begitu sapaan khas di RM Lele Lela, begitu Anda masuk ke sana. Tak peduli Anda datang pada pagi, Siang, Sore, atau malam, tetap disambut dengan ucapan, Selamat pagi”. Ini ucapan selamat khas RM Lele Lela. Begitulah Rangga mendoktrin” stafnya dalam menyambut tamu dirumah makan Lele Lela. Halitu dilakukan agar para karyawan termotivasi dan produkyang disediakan selalu Segar seperti segarnya Suasana pagi hari.

Anda tahu, Lela” bukanlah nama istriatau anak-anak Rangga, melainkan Singkatan dari Lebih Laku. Meski usianya tergolong muda, 31 tahun, pahit getir hidup membangun usaha Sudah dirasakannya sejak bertahun tahun lalu, sebelum akhirnya RM Pecel Lele Lela dikenal luas. RM ini kudirikan sejak Desember 2006. Bolehlah kini dibilang sukses. Sebab, telah melewati masa – masa sulit. Karena itu, Rangga lebih bisa menghargai jerih payah yang membuat orang meraih Sukses, menghargai hidup dan orang lain.

Profesi yang digeluti Rangga dengan mendirikan RM Lele Lelainibisa dibilang melenceng daripekerjaan bapaknya, Deddy Hasanudin, seorangustaz dan ibunya, Tintin Martini, pegawai negeri yang Sebentar lagi bakal memasuki masa pensiun.

Dulu, citacita Rangga memang menjadi pengusaha. Namun, entah kenapa akhirnya ia kuliah disebuah perguruan tinggi di Bandung Jurusan Manajemen Informatika. Ilmu akademis ini mengantar Rangga bekerja disebuah perusahaan pengembang di Bekasi Sebagai marketing communication manager.

Sayang, setelah hampirlima tahunbekerja, dia ketahui kondisi perusahaan sedang tidak sehat. Hal itu membuat banyak karyawan diPHK. Saat itulah Rangga tersadar, dia tinggal menunggu giliran. Karena itu dia mulai memikirkan lebih serius soal rencana hidup berikutnya. Yangjelas, saat itu yang terpikir oleh Rangga, takingin lagi menjadi karyawan kantoran karena sewaktuwaktu bisa menghadapi masalah PHK.

Nekat Wirausaha dengan Modal 3 Juta

Setelah tiba giliran PHK, akhirnya, Rangga bertekad ingin membuka usaha sendiri. Sebagai orang yang bisa dibilang pemula, maklum jika dia bingung mauberbisnis apa. Sebelumnya, Rangga pernah membuka beberapa usaha kecilkecilan, antara lain penyewaan komputer, tapi bisnis iniselalu gagal. Setelah dipikirpikir, ia putuskan membuka usaha di bidang kuliner. Alasannya Sederhana saja, Rangga juga Suka sekali makan.

Rangga memilih membuka warung seafood seperti yang banyak ditemukan di kaki lima. Modal utama hanya Rp 3 juta. Uang itu diperoleh dari hasil menjual barang barang pribadi ke teman teman Rangga, antara lain telepon genggam, parfum, dan jam tangan. Rangga bilang, Sampai sekarang, barang-barangitu masih disimpan mereka, katanya buat kenang-kenangan. Istrinya, Siti Umairoh, mendukung keputusanku untuk merintis bisnis kuliner

Awalnya, istrinya berpikir Rangga hanya berbisnis Sampingan Saja Seperti Sebelumnya, karena Rangga mulai berjualan sebelum mengundurkan diri dari perusahaan. lstrinya kaget ketika rangga benar-benar menekuni bisnis ini, meski tetap saja ia mendukung.

Yang keberatan justru Orang tua Rangga. Mungkin orang tua Rangga khawatir memikirkan masa depan anaknya yang jadi tidak jelas. Maklum Rangga yang sebelumnya kerja kantoran dengan berbaju rapi, malah jadi terkesan luntang lantung tidak jelas.

Warung semi permanen berukuran 2×2 meter persegi pun didirikan di daerah Pondok Kelapa. Lantaran modal paspasan, Rangga mencari yang sewanya cukup murah, sekitar Rp 250 ribu per bulan. Ia kemudian mempekerjakan tiga orang, dua di antaranya adalah suamiistri Berbeda dari warung seafood di kakilima yang umumnya bertenda biru dan berspanduk putih, warung Rangga yang baru didirikan itu didesain dengan Cukup unik.

Ternyata, desain unik tak membantu penjualan. Tiga bulan pertama, hasil penjualan selalu minus. Tak Satu pun pembeli datang. Rangga pun mencoba berbesar hati, mungkin warungku sepi lantaran banyak yang tidak tahu keberadaan warung tenda itu. Rangga pun mulai melirik lokasi lain yang lebih ramai. Ia tawarkan sistem kerjasama dengan rumah makan dan warung lain, tapi selalu ditolak.

Sampai Suatu hari, Rangga mendatangi sebuah rumah makan Semi permanen di kawasan tempat makan, masih di kawasan Pondok Kelapa. Seperti yang lain, pemilik rumah makan ini juga menolak tawaran kerjasamanya. Ia justru menawari Rangga membeliperalatan rumah makannya yang hendak ia tutup lantaran sepi pembeli. Rangga menolak, karena tak punya uang. Akhirnya, si pemilik warung menawarkan Sewa tempat Seharga Rp 1juta per bulan. Rangga pun setuju.

Eksperiman dengan Lele

Di tempat yang baru, bulan pertama buka usaha, mulai tampak hasilnya. Pembeli mulai berdatangan. Rangga tahu, usaha yang bisa Sukses dan bertahan adalah usaha yang punya Spesialisasi. Ia pun memutuskan untu kberjualan pecel lele, makanan favoritnya sejak kuliah. Ya, semasa kuliah dulu, Rangga memang dikenal rajin berburu warung pecel lele yang enak. Ia pun berpikir, orang yang khusus berjualan makanan dari lele belum ada.

Lagi lagi, nasib baik belum sepenuhnya berpihak. Begitu ia berjualan lele, yang laku justru ayam. Kalau menu ayam habis, pembelilangsung memilihpulang. Namun, Rangga tak mau menyerah. Karena dia tahu lele itu enak. Jadi, ketika para pembeli duduk menikmati hidangan, dia berkeliling meja, minta mereka mencicipi lele hasil masakan warungnya. Syukurlah, mereka berpendapat masakannya enak.

Dari situ, Rangga berusaha lebih giat untuk memperkenalkan masakan lele. Ia berusaha menonjolkan kelebihan lele yang terletak pada dagingnya yang lembut dan gurih. Untuk menutupi kekurangan tampilan fisik lele yang mungkin kurang menarik, lelenya ia baluri tepung lalu digoreng. Hasilnya? Gagal total.

Dia amati lele berbalur tepung itu. Ternyata memang mirip pisang goreng. Rangga pantang menyerah. Ia mencoba lagi menggoreng lele dengan tepung. Kali ini, digoreng dengan telur dan melalui beberapa kali proses. Pembeli pun makin suka makan lele olahan kami. Pelanggan yang Suka makan ayam, mulai beralih ke lele tepung

Setelah tiga bulan pindah ke tempat baru itu, pendapatan rumah makannya meningkat menjadi Rp 3 juta perbulan. Ia sangatbersyukur, Dari situ Rangga berpikir untuk lebih total menekuni bisnis ini. Apalagi bila dibandingkan dengan penghasilannya Sebagai karyawan kantoran yang Cuma tiga koma. Maksudnya, kata Rangga, setelah tanggal tiga, lalu koma

Terjebak Rentenir

Tahu usaha Rangga makin laris, pemilik rumah makan menaikkan biaya sewa jadi dua kali lipat, yaitu Rp 2juta per bulan. Ia mulai merasa Seolah-Olah bekerja untuk Orang lain, karena hasil yang diraih hanya untuk membayar sewa tempat.

Tidak berhenti di situ, masalah bertambah lagi karena guna mendapatkan uang untuk membayar gaji karyawan. Rangga sudah mantap tidakakan kerja kantoran lagi. Sebab ada tiga orang karyawan yang menggantungkan nasib padanya. Rangga mencoba tetap bertahan, walaupun pendapatan masih minus. Saking pusingnya, di awal 2007 Rangga nekat berhutang pada Seorang rentenir Sebesar Rp 5 juta, sekadar untuk menggaji karyawan. Ia berprinsip, dalam kondisisepertiapa pun, karyawan tetap harus diprioritaskan. Ia percaya, memikirkan kesejahteraan karyawan adalah syarat, untuk Suatu bisnis agar tidak bangkrut di kemudian hari.

Setelah berkalikali jatuh bangun merintis Pecel Lele Lela, akhirnya Rangga mulai mereguk manisnya madu berbisnis kuliner. Usahanya kian menanjak, terutama setelah banyak orang tertarik menjadi pewaralaba Pecel Lele Lela. Syukurlah, masalah demi masalah yang menimpa usahanya satu per satu berhasil dilalui. Selain pantang menyerah setiap kali bertemu masalah, ia juga tak ingin terfokus pada masalah yang sedang dihadapi. Ia lebih Suka mencari peluang untuk membuka jalan keluar, Bukannya lari dari masalah. Cara seperti ini justru membuat Rangga terus berpikir optimis dan semangat mencari solusi terbaik.

Berkat lele goreng tepung andalan, rumah makannya semakin ramai pengunjung. Pecinta lele dari berbagal kawasan datangke rumah makannya di Pondok Kelapa untuk menikmati Lele Lela. Ia Senang melihat perubahan positif ini, terutama bila mengingat bulan-bulan pertamayang Sepi pembeli. Ini membuat Rangga makin bersemangat mengajak kerjasama dengan lebih banyak orang lagi.

Akhirnya Rangga bisa segera pindah dari tempat makan pertama yang disewa Seharga Rp 2 juta per bulan. Menu lele yang disediakan pun makin beragam, antara lain lele goreng tepung, lele fillet kremes, dan lele saus padang Tiga menu inilah yang jadi andalan Lele Lela, bahkan jadi favorit pembeli hingga kini.

Namun, di balik kesuksesan Rangga, cobaan kembali menimpa. Salah satu koki minta berhenti bekerja. Belakangan, Rangga tahu ternyata ia membuka usaha sejenis. Apakah Rangga marah Tidak. Rangga justru kecewa mengapa kokinya tak memberitahuku Sejak awal. Kalau saja tahu, Rangga pasti akan mendukungnya. Tak bisa kita berharap orang akan seterusnya loyal bekerja. Rangga senang, melihat orang lain maju.

Rangga juga senang bila usahanya bisa menginspirasi dan bermanfaat bagi orang lain. Bagi Rangga, rezeki Sudah ada yang mengatur, Bahkan ketika saat ini banyak orang berbisnis kuliner lele, Rangga tak menganggap mereka sebagaiancaman. Inijustru memotivasiuntukterus berusaha lebih baik. Namun, tak urung Rangga kelimpungan dengan mundurnya sang koki. Apalagi, Saat itu rumah makan Lele Lela mulai ramai.

Buka Waralaba

Berkat kerja keras Rangga dan para karyawan, rumah makan Lele Lela tetap bisa berjalan seperti biasa. Suatu hari, dalam perjalanan pulang ke rumah orangtuanya di Bandung, Rangga mampir ke sebuah restoran cepat saji asal Amerika. Disitulah Rangga bertemu Bambang, teman lama saat SMA. Dulu, mereka sering main basket bareng. Rupanya, Bambang bekerja di restoran itu sebagai manajer.

Rangga lalu bercerita, kalau dia sudah punya rumah makan dan mempersilakannya untuk mampir bila ada waktu. Tak disangka, beberapa minggu kemudian temannya datang berkunjung ke rumah makan Lele Lelayang lokasinya Sangat jauh dari tempat kerja sang teman.

Dari situlah mereka banyak mengobrol soal bisnis rumah makan. Rangga juga Curhat Soal kebingungan sebelumnya ketika ditinggal koki. Bambang lalu banyak memberi masukan, bagaimana mengelola Sebuah rumah makan. Tertarik dengan SaranSaran Bambang, akhirnya Rangga menjadikannya sebagai konsultan, meski kecil – kecilan.

Sebagai honornya, rangga mengganti uang bensin. Bambang membantu membuat Standar Operasional Prosedur (SOP) menjalankan rumah makan. Dengan cara seperti ini, Rangga tak lagi kelimpungan bila ditinggal koki. Bambang juga melatih para karyawan sehingga mereka bekerja lebih profesional, sesuai SOP

Peran Bambang memang cukup besar. Rupanya, ia menaruh perhatian pada rumah makanku Lele Lela, sehingga akhirnya ia berhentibekerja dari tempatnya dan pindah kerja padaku. Bahkan, teman Bambang banyak yang mengikuti jejaknya. Kini, Bambang jadi General Manager untuk Pecel Lele Lela.

Syukurlah, dengan adanya SOP ini, usaha rangga jadi makin berkembang. Rangga bisa membuka cabang lagi. Istri Rangga juga ikut membantu. Bahkan, atas permintaan banyak orang, sejak 2009 Pecel Lele Lela mulai divvaralabakan. Sebenarnya, Rangga takpunya rencana untuk mewaralabakan. Namun, para peminat justru mendukung untuk melakukannya. Usaha Rangga taksiasia, tahun lalu ia mendapat penghargaan dari Menteri UKM.

Raih Penghargaan

Banyaknya permintaan bisnis waralaba, membuat Rangga akhirnya tak bisa menolak untuk mewaralabakan Pecel Lele Lela. Ini upaya lebih memperkenalkan rumah makan Lela kepada lebih banyak orang Sekaligus bagi bagi rezeki. Meski awalnya permintaan waralaba hanya berasal dari Jabodetabek, kini mulai merambah ke daerah. Di antaranya, Bandung, Yogyakarta, Karawang, dan Purwokerto.

Beberapa cabang lagi kemudian dibuka, di Medan dan beberapa kota lain. Bahkan, Sudah ada permintaan waralaba dari orang-orang Indonesia yang tinggal di Jeddah, Penang, Kuala Lumpur, dan Singapura. Rencananya, cabang-cabang di luar negeri akan direalisasikan secepatnya. Kini Pecel Lele Lela telah memiliki 27 cabang.

Pada bulan Ramadan Pecel Lele Lela bahkan ikut mengisi menu acara buka bersama yang diadakan Presiden SBY di Istana Negara, yang dihadiri para menteri dan duta dari negara sahabat.

Selain itu, tahun lalu Rangga juga menerima penghargaan dari Menteri Perikanan dan Kelautan karena usahaku dinilai paling inovatif dalam mengenalkan dan mengangkat citra lele dengan menciptakan makanan kreatif Sekaligus mendorong peningkatan konsumsi ikan. Penghargaan lain yang juga diraih, Indonesian Small and Medium Business Entrepreneur Award (ISMBEA) 2010 dari Menteri Usaha Kecil dan Menengah.

Dua penghargaan ini makin memotivasi diri Rangga untuk lebih bekerja giat sekaligus senang karena usahanya membuat lele jadi menu modern ternyata tak sia-sia. Kini, selain Sibuk mengembangkan Pecel Lele Lela, Rangga juga kerap diundang jadi pembicara di berbagai seminar, termasuk di kampus-kampus di Seluruh Indonesia. Rangga Senang berbagi ilmu, agar mereka kelak bisa menciptakan lapangan kerja Sendiri. Selain itu, rangga juga tidak pelit. Mentraktir karyawan makan di restoran lain jadi salah satu cara menghargai hasil kerja karyawan.

Gratis Makan

Itulah lika liku usaha Rangga dalam mengembangkan RM Lele Lela. Cita cita untuk jadi pengusaha kini tercapai Sudah. Dulu Rangga pernah bermimpi punya rumah makan dengan konsep seperti restoran cepat saji terkenal. Kini, pelan pelan mimpi itu mulai terwujud. Rangga sendiri tak pernah membayangkan usahanya akan sesukses itu. Banyak orang bilang, kesuksesannya terbilang cepat datangnya.

Rangga sangat bersyukur, kini omzet seluruh cabang mencapai Rp 1,8 miliar per bulan, mengingat dulu ia punya banyak rasa takut untuk memulai. Sampai kini, Rangga masih memegang keyakinan, jika kita mau fokus dalam melangkah, pasti akan Sukses.

Prinsipnya yang lain sejak memulai usaha adalah selalu mengawali sesuatu dengan akhir yang positif. Maksudnya, ia selalu memikirkan bagaimana nanti kalau usahaku sukses, bukan sebaliknya. Dengan demikian, menjadi pemantik untuk selalu optimis.

Inovasi juga harus jadi kebiasaan, selain terus meningkatkan kualitas dan pencitraan Pecel Lele Lela. Itu Sebabnya, kini ia Sedang menggodok konsep baru untuk jangka panjang. Diversifikasi menu dan pencitraan Pecel Lele Lela sendiri juga semakin dipikirkan.

Kini, ada banyak pilihan menu lele di Pecel Lele Lela. Untuk menarik hati pembeli, Pecel Lele Lela juga menggratiskan hidangannya bagi pembeli yang berulang tahun diharikedatangannya. Dan, pembelibernama Lela juga akan mendapat keistimewaan berupa makan gratis seumur hidup. Menarik, bukan?

Namun, kesuksesan yang diraih bukan semata-mata kematangan konsep dan kelezatan menu saja. Para karyawan juga punya andil besar. Itu sebabnya, penting bagi Rangga membuat mereka betah dan bekerja dengan senang hati. Bukan mementingkan diri sendiri, sebab karyawanlah ujung tombak kesuksesan sebuah bisnis.

Karena itu, Sebagai penghargaan, seperti yang dijelaskan di atas, tak jarang mereka ditraktir makan di restoran lain. Jika hati senang, mereka juga pastiakan bekerja dengan semangat. Selain itu, Logo Pecel Lele Lelayang sempat diprotes kedai kopiasal Amerika karena dianggap mirip, juga Sudah digantisejak membuka cabang ke16.

Titik Balik dalam Hidup Rangga Umara

Bagaimana Rangga mulai berpikir tentang bisnis RM Lele Lela? Ada suatu titik balik yang menjadi penting untuk diceritakan. Yakni Saatia dipecat dari perusahaan dan membayangkan istrinya diusir dari rumah petak kontrakan garagara menunggakuang sewa Senilai Rp 300 ribu. Itulah titik balik dalam hidup ang membuat pikiran Rangga terbuka untuk merintis usaha Lele Lela.

Dan ia pun mulai membuka warung kecil dengan modal 3juta. Sepi dari rizki dan pelanggan, membuat Rangga bukan hanya sekali terhempas. Dia kemudian punya keyakinan baru: “Dengan niat yang baik, Tuhan pasti tidak akan tinggal diam. Keyakinan itu, dan berbagai cerita jatuh bangun lainnya menjadi kuncinya.

Membangun usaha memang tak semudah yang bisa dibayangkan. Ada Saatnya, pada awal pendiriannya, Rangga senang melihat warung makannya ramai dan menikmati keuntungan sekitar Rp 3 hingga 4 juta setiap bulannya. Namun kondisi itu tak berlangsung lama. Bulan-bulan berikutnya ia bahkan merugi. Ia pun menggunakan uang pesangon PHK Rp 9 juta untuk membenahi, namun tiada hasil. Ia bahkan beberapa kali terjerat renternir.

Tak habis akal, Rangga kemudian meminta istri untuk meminjam dana di koperasi tempatnya bekerja sebesar Rp 15 juta. Alhasil setiap tanggal gajian, istrinya tidak menerima upah jerih payahnya karena terpotong cicilan pinjaman itu. Tapi lagilagi kondisi usaha dan keuangan belum juga membaik, bahkan semakin parah. Dalam kondisi lelah dan masih saja belum mendapatkan uang Rangga dikejutkan dengan pengusiran keluarga kecilnya oleh pemilik kontrakan. Namun kejadian pengusiran itu akhirnya mendorong mertua Rangga untuk bercerita pada orang tuanya di Bandung. Karena Orang tua terlanjur mengetahui masalah Rangga, sejak itu ia mengkeramatkanmereka dengan membina komunikasi lebih baik dan selalu minta doa, terutama di hari Jumat. Terbukti, ridho orangtua adalah ridho Tuhan.

Berangkat dari titik terendah yang tidak ingin ia ulangi lagi itu, hidupnya pelan pelan mulai tertata. Teman temannya yang juga mendengar Rangga diusir, Satu per Satu datang menghibur. Seorang sahabat bahkan menawarkan kartu kreditnya untuk dipakai menyewa sebuah rumah yang lebih layak. Untuk pembayarannya, Rangga diizinkan menyicil Seadanya setiap bulan. Itu semua agar Rangga konsentrasi mengurus usaha. Benar, setelah mendapatkan sebuah rumah dengan tiga kamar, bahkan ada garasinya, Rangga mulai menata kembali hidup.

Belajar Dari Ahlinya

Kenapa RM Lela dengan cepat mencapai sukses yang gemilang, bahkan kini beromzet 1.8 miliar per bulan. Rahasianya adalah belajar pada ahlinya. Hasil evaluasi lain setelah rumah makan Lela mulai dikunjungi orang, ternyata selama masa Sulit, Rangga tidak mengerti sama sekali tentang bisnis rumah makan. Rangga hanya mengandalkan kepercayaan pada juru masak. Juru masak yang belanja, dan juga yang memasak, Rangga hanya terima laporan pengeluaran.

Ini pun berlanjut, dan setelah dilihat lihat, ternyata pengeluaran selalu lebih besar dari pendapatan. Teman SMA Rangga, bambang, yang berpengalaman dalam bisnis rumah makan, pernah mengatakan, mempercayakan semuanya pada juru masak itu Sama saja dengan memberikan jantung kita pada orang lain.

Rangga bersyukur, dengan kerja keras akhirnya bisa menikmati beberapa kali bulan puasa Seraya menjalankan ibadah umroh. Usahanya juga membuahkan beberapa penghargaan, di antaranya dari Bapak Sharif C Sutardjo, Menteri Perikanan dan Kelautan, karena usaha Lele Lela dinilai paling inovatif dalam mengenalkan dan mengangkat citra lele.

Menaikkan “Martabat” Lele

Kisah hidup berliku dari seorang pejuang kehidupan dengan tekad bulat dan keyakinan pada akhirnya berbuah manis. Jerih payah, jatuhbangun membangun bisnis pada akhirnya dirasakan oleh Rangga Umara. Pada akhirnya, Rangga mulai merintis bisnis sendiri. Diawali dengan tidak ada ide, seperti yang ditulis di atas, bisa dikatakan dengan modal nekat dan niat, Rangga membuka warung Lele kaki lima dengan diferensiasi tempat dibuat unik.

Merasa bahwa lokasi yang menjadi kendala utama, Rangga pun mulai mencari tempat lain. Rangga menawarkan kerja sama dengan warung makan lainnya, tetapi Selalu ditolak. Sampai suatu hari Rangga mendatangi sebuah rumah makan semi permanen dikawasan tempat makan, di kawasan Pondok Kelapa. Karena keterbatasan modal, Rangga menolak membeli peralatan rumah makan tersebut. Ia hanya menyewa tempat seharga Rp 1juta per bulan.

Di tempat usaha yang baru, Rangga memutuskan mendirikan Lele Lela. Lagi lagi nasib baik belum menghampirinya. Ketika berjualan lele, yang laku malahan ayam. Namun, naluri wirausaha Rangga pada momen itu sangat kuat. Terbukti dia mampu melihat peluang yang tidak ditangkap orang lain. Lele yang biasanya di rumah makan hanya menjadi menu tambahan, oleh Rangga disajikan sebagai menu utama.

Bagaimana membuat hal yang tidak biasa menjadi biasa di mana lele menjadi Sajian utama dapat diterima oleh konsumen? Di tahap ini, seperti dalam percobaan awal pembuatan lele yang mirip pisang goreng sampai kini menemukan inovasi yang beragam, naluri inovasi Rangga terbukti menunjukan kebolehannya. Inovasi hidangan lele untuk menonjolkan kelebihan lele sebagai menu makanan yang terletak pada kelembutan dagingnya dan memperbaiki bentuk lele sebagai makanan yang tidak menarik dengan dibaluri tepung dan telur.

Lambat laun, dalam upaya menaikan martabat lele, warung makan lele Rangga yang masih baru dan mulai direspon baik oleh konsumen, tidak terlepas dari kendala. Lokasi yang pada awalnya menjadi kendala, sudah teratasi. Usahanya pun berbuah manis. Berkat lele goreng tepung andalan, rumah makan Rangga semakin ramai pengunjung. Tidak hanya itu, inovasi masakan lele terus berlanjut dengan sajian tiga menu utama, yaitu lele goreng tepung, lele filet kremes, dan lele Saus padang.

Ketika bisnis mulai menanjak, Rangga membangun fondasi usahanya, meletakkan pijakan dasar berupa budaya kerja dengan membuat SPO dengan dibantu oleh Bambang. Pada tahap pengembangan ini, peranan Bambang Sangat besar membantu Rangga. SPO menjadi dasar pembukaan cabang lainnya untuk mengontrol kualitas makanan agar rasanya tidak berubah-ubah dan pelayanannya pun mempunyai diferensiasi tersendiri. Pada akhirnya Bambang menjadi general manager Pecel Lele Lela.

Pada 2009, menanggapi banyaknya permintaan, Rangga mulaimewaralabakan Pecel Lele Lela. Waralaba Pecel Lele Lela berdampak positif untuk pengembangan usaha. Pecel Lele Lela lebih dikenal oleh masyarakat dan selanjutnya permintaan konsumen pun meningkat. Waralaba lele Lela diminatibanyak orang, bahkan sampaike luardaerah, Seperti Bandung, Yogyakarta, dan Medan.

Lele Lela berhasil menjaga kualitas rasa dan layanan yang menjadi kunci sukses bisnis kuliner. Tidak hanya itu, untuk menjaga bisnis tetap dalam fase pertumbuhan, Lele Lela terus berinovasidengan rasa, mengembangkan berbagai menu hidangan lele yang khas dan berbeda. Inovasi di sisi layanan Lele Lela mengembangkan budaya Sambutan ucapan Selamat Pagi” kepada setiap konsumen yang datang meskipun waktunya siang, sore, dan malam. Rangga menunjukkan bahwasanya seorang wirausahawan haruslah kreatif dan inovatis mengembangkan nilainilai baru untuk meningkatkan nilai produknya.

Sekarang ini Lele Lela mendapatkan permintaan waralaba dari orang-orang Indonesia yang tinggal di Jeddah, Penang, Kuala Lumpur, dan Singapura. Dengan Rumah makan Lele Lela, martabat lele bisa terangkat ketingkat ke tingkat nasional, bahkan Sampai populer diluar negri.

Kreatifitas Tak Harus Orisinil

Kini Lele Lela telah menuais ukses berat. Bahkan, nama Rangga Umara mungkin kalah tenar dibanding Pecel Lele Lela. Tentunya, pemilik 23 outlet yang salah satunya beromset 20 juta sehari ini tidak ia bangun dengan kemudahan. Logonya yang mirip coffee shop yang terkenal itu, sempat dikritik dan ingin dipatenkan, akhirnya menang Lela karena ada tanda bintang dua dikanan kirinya.

Bagaimana Lele lela ini menuai Sukses berat, ada beberapa rahasia: Kreatifitas tak harus orisinil, bisa juga meniru, tapi dengan konsepyang berbeda” pesan Rangga saat di temui Okto Magazine di Fakultas Kesehatan Masyarakat UI, Depok. Rangga juga mengatakan bahwa banyak temannya ingin membuat usaha yang brand new, dengan konsep yang ribet dan ujungnya tidak kunjung memulai usaha. Sementara ia Cukup memfokuskan pada komoditi lele yang disulapnya menjadi fillet dengan berbagai bumbu yang membuatnya lezat.

Jangan remehkan bisnis recehan” katanya, Rangga. Karena justru dariyang recehan ini bisa beromzet miliaran. Terserah kalau nanti untungnya mau diputar menjadi usaha yang lebih deluxe. la juga menambahkan, buatlah Suasana ramai, terutama saat baru buka. Ia bahkan harus membeli karangan bunga sendiri untuk restorannya, untuk memberi image usahanya dikenal banyak orang penting. Selain itu carilah lokasiyang dekat ATM.

Usahanya tak sia-sia. Ia bahkan berhasil merekrut staf dari restoran fastfood internasional yang sudah terkenal untuk memanage restorannya meski pada awalnya baru mampu memberi upah harian. Meski kini sudah beromset miliaran, Rangga masih punya rencana mengembangkan resort khusus lele, yang takhanya berisi peternakan tapi juga hotel. Rencananya Ia berharap masyarakat menaikkan status sosial ikan ini. Jadi biar leletidak dianggap jorok lagi, seperti stereo tipe yang berkembang di masyarakat.

Rangga juga menuturkan agar pengusaha Jangan takut ditiru, justru kalau ada yang meniru harusnya bangga. Pengusaha yang mengagumi Sosok Bob Sadino ini berpesan, menjadi pengusaha adalah pilihan hidup. Memang penghasilannya tidak pasti, tapi harus berpikiran positif. Menurut Rangga, mengelola usaha itu seperti menikah. Walaupun banyak menemukan masalah, Kita ditantang untuk Selalu jatuh Cinta lagi, lagi, dan lagi pada orang yang sama, begitu pula dalam mengelola bisnis.

Rahasia Sukses Rangga Umara

Sudah terbukti bahwa, salah satu hal penting dalam memulai usaha adalah bukan modal akan tetapi mental. Karena dalam dunia usaha tidak sedikit rintangan – rintangan yang pasti harus kita lalui. Terutama hal terberat yang harus dihadapi adalah menaklukan persepsi-persepsi negatif yang sering muncul dihati. Sebelum memulai usaha sebaiknya persiapkan mental, hilangkan rasa gengsi, Kalau mau menjadi kaya jangan banyak gengsi, kalau kebanyakan gengsi tidak bakalan kaya.

Apapun usaha yang di geluti adalah baik dan bagus. Yang utama adalah harus mempunyai visi dan misi Serta impian besar untuk masa yang akan datang, lalu pandai mengelola usaha. Seperti Lele Lela, bisnis kuliner yang bertahan di Jakarta adalah bisnis kuliner yang mempunyai spesialisspesialis tersendiri. Misal, kita sering dengar ada rumah makan spesialis ayam bakar, ikan bakar, ada yang terkenal dengan sambelnya, ada juga yang terkenal karena Sop buntut.

Ada beberapa tips dari rangga, kita yang mungkin baru ingin memulai usaha. Carilah usahayang Sudah banyak digeluti, yang sudah umum. Karena biasanya bagiyang baru memulai usaha mereka kebanyakan terjebak Mind set yang cenderung memilih usaha yang Saingannya Sedikit. Padahal dengan melakukan itu, Sesungguhnya mereka sedang menggali sebuah lubang yang akan menjadi perangkap bagi usahanya sendiri. Lho kenapa? Ini karena cost atau biaya untuk membuka pasar dan memperkenalkan produk usaha kita ke masyarakat sangat besar Sedangkan yang baru memulai tentu saja masih minim modalnya. Jadi Strateginya carilah jenis usaha yang sudah banyak dan Sudah dikenal dikalangan masyarakat.

Berangkat dari Jenis usaha yang sudah dikenal masyarakat, maka, Rangga Umara memilih Pecel Lele sebagai jenis usaha yang akan digelutinya. Pecel lele merupakan makanan yang Sudah sangat dikenal oleh masyarakat. Hampir semua orang tahu apa itu pecel lele. Yang biasanya berjejer dipinggir pinggir jalan. Bernuansa kaki lima, dengan dikelilingi spanduk bergambar ikan, ayam, bebek, burung dara dan lain sebagainya.

Kita Sebagai masyarakat indonesia tentunya Sudah familiar dengan makanan ini. Tapi yang perlu menjadi pertanyaan kita adalah, mengapa pedagang pecel lele dari dulu dari zaman nenek moyang kita nuansanya selalu seperti itu? Selalu Sama. Apakah tidak ada yang mau membuat terobosanterobosan baru. Misalnya menyajikan masakan ini dengan tampilan yang exotis, menarik dan modern. Dari Sinilah Rangga Umara memulai ide bisnisnya.

Ada beberapa pokok yang membangkitkan gairah untuk terus menggali terobosan usaha dengan serius, yaitu: Mulailah berfikir usaha dariyang akhir bukan dariyang awal. Maksudnya adalah berfikirlah bagaimana nanti usaha kita? Mau diseperti apakankah usaha itu?

Kebanyakan dari kita terjebak berfikir diawalnya Saja, misal ada ungkapan – ungkapan pesimistis yang Sering kita dengar pada Orang-orang yang baru atau mengawali usaha seperti: Duh. bagaimana ya kalau usaha saya rugi” Bagaimana ya kalau usaha saya bangkrut” Tanpa disadari kalimat – kalimat itu telah membuat diri mandek stagnan, atau tidak menghasilkan apa – apa. Bahkan, hal yang pesimis itu bisa menjadi doa bagi kegagalan dirinya.

Mengapa ungkapan – ungkapan pesimistis itu tidak kita rubah “Duh bagaimanaya kalau usaha saya maju” atau bagimana ya kalau karyawan saya kewalahan menangani tamu. Tentu ungkapan – ungkapan tersebut lebih memotivasi dan membangkitkan libido entrepreneur kita menjadi lebih binal dan galak, dan membangkitkan Semangat kita untuk bergerak dan segera merealisasikannya.

Sekali lagi, segeralah untuk memulai usaha dan seriusi usaha anda. Itu kuncinya. Buang jauhjauh persepsi-persepsi menakutkan yang munculpada diri. Dibawah ini bisa di catat bahwa rahasia sukses menjadi pengusaha ala Rangga Umara adalah:

  • Posisikan setiap diri kita, berapapun umurnya, apapun latar belakangnya, untuk menjadi Seorang yang berjiwa besar, direktur utama” misalnya. Hal ini penting, karena akan mempengaruhi setiap gerak gerik kita serta pola pikir dan langkah kita ke depan.

  • Untuk menjadi pengusaha sukses kita tidak perlu terpaku dengan umur, berapa pun umurnya, apapun latar belakangnya. Yang penting mempunyai impian besar dan keinginan kuat dan tidak bergantung pada perusahaan tertentu.

  • Untuk menjadi direktur utama tidaklah sulit. Jadikanlah dirimu direktur utama oleh dirimu sendiri. Yang Sulit adalah jika kita bekerja pada orang lain atau perusahaan, karena itu memerlukan waktu yang panjang dan jenjang jenjang karir yang harus dilalui. “Siapa lagi yang mau menjadikan kita besar dengan cara cepat selain diri kita sendiri”

  • Kita tidak akan menjadi pengusaha Sukses jika visi yang tertanam diotak kita hanya untuk bekerja kepada orang lain atau menjadi karyawan bukan menjadi Seorang pengusaha

  • Jangan pernah takut untuk berangan angan yang penting adalah mimpilah yang besar untuk meraih kehidupan yang lebih baik. Mimpi itu gratis, tapi anehnya kebanyakan orang tidak mau bermimpi karena ketidak percayaan diri mereka yang tertanam didalam jiwanya

  • Kalau mau menjadi pengusaha sukses, jangan banyak gengsi, kalo kebanyakan gengsi tidak bakalan kaya.

  • Pada dasarnya setiap dari diri kita adalah sama. Baik antara yang orangyang besar dan orang-orang biasa-biasa saja, baik dia pintar atau dia tidak pintar, hanya saja yang membedakan orang biasa dan orang yang Sukses adalah cara jemputnya cara kelola yang berbeda.

  • Kunci untuk menjadisukses menjadi pengusaha adalah yakin, Seberapa yakinkah kita menjalani usaha kita.

  • Buatlah rencana hidup untuk diri kita sendiri atau kita akan terpuruk menjadi bagian dari rencana orang lain.

  • Jangan menjadi karyawan di perusahaan kita sendiri. Kembangkan usaha anda. Kembangkan dengan merekrutkaryawan dan membuka cabang.

  • Usaha apa saja bagus, yang penting adalah kita mempunyai visi dan impian jauh kedepan.

  • Carilah tempat usaha di tempat tempat yang ramai karena perputaran uang di tempat ramai lebih cepat.

 

Categories: Uncategorized Tags:
December 29th, 2014 Leave a comment Go to comments